January 02, 2010

Sesungguhnya...


Sesungguhnya, aku masih menyimpan mimpi itu. Cita-citaku. Dia terus datang di kala malam. Saat bunga tidur seharusnya menghiasi taman istirahat di atas tempat tidur hangat. Dia merasukiku dan membuat anganku melayang jauh. Dia seperti seorang kekasih yang menunggu untuk disentuh. Begitu menarik dan membuat jatuh cinta. Berjuta senandung dan puisi cinta terasa pas untuknya. Memainkan harapan dan keantusiasanku. Amnesia tidak akan berpengaruh banyak padanya. Aku tahu itu. Ya, dia. Cita-citaku. Begitu indah dan penuh pesona. Aku ingin memilikinya, menggenggamnya, meraihnya dan menunjukkan kepada segala bahwa aku berhasil memilikinya, menggenggamnya dan meraihnya.

Kemudian satu pukulan menjatuhkan anganku yang tengah melayang bebas. Terombang-ambing di lautan perasaan. Mengharu-biru di semesta emosi. Mengeluarkan kesadaran yang tak henti mendesak.

Aku putus asa. Aku ingin sekali mencoba tapi aku merasa tak kuasa. Aku hanya seperti seorang anak petani yang bermimpi keliling dunia. Tidak. Itu masih mungkin. Dan ini mustahil. Aku seperti pinguin kecil yang bermimpi untuk terbang layaknya elang.

Apa yang harus aku lakukan? Pemain utama, figuran atau penonton?
Ah, hidup ini terlalu banyak pilihan. Tak pasti dan kadang menyesatkan. Aku ingin satu kepastian. Hanya itu, kali ini.



Well, apa itu?


Cita-cita yang standar sebenarnya. Dokter. Biasa sekali kan? Mimpi kebanyakan anak kecil lugu. Tapi ternyata lebih dari itu. Semalam aku menemukan diary masa kecilku. Dan aku pun termenung sesudah membacanya. Bodoh sekali aku. Melupakan diriku sendiri. Pantas saja dia sering menatapku sinis di cermin itu.

Di diary itu aku "tertulis" begitu mulia. Ingin menjadi dokter yang bisa menemukan sebuah obat. Penyakitnya sederhana. HIV/AIDS? bukan. Kanker? bukan. Penyakit itu demam berdarah dengue a.k.a DBD. Ya, memang sejak dulu aku penasaran sekali dengan penyakit ini. Bagaimana bisa penyakit yang disebabkan satu spesies nyamuk kecil tidak bisa ditemukan obatnya oleh berjuta tangan-tangan dingin? Aku penasaran hingga ingin berlari menghadap Allah SWT dan menanyakan jawabannya. Cukup gila dan absurd. Tapi, ya, aku penasaran.

Aku orang yang keras kepala dan memiliki ego besar sehingga ini terasa sulit untukku. Ingin sekali mewujudkan cita-cita itu, tapi aku tidak tega. Aku tidak tega dengan keluargaku, terutama Ayah dan Ibuku. Aku tidak mau hanya karena keegoisanku mereka menderita. Mereka bukan superhuman. Tanggungan mereka bukan hanya aku. Aku tahu diri.

Aku bukan Aladdin yang bisa mengajukan 3 permintaan kepada jin lampunya. Aku bukan Richie Rich yang bisa membeli apapun dengan uangnya. Aku bukan seorang jenius yang dengan mudah bisa mendapat beasiswa. Aku adalah aku. Si pemimpi kecil yang berusaha mencegah pil pahit kenyataan masuk ke dalam lambung impiannya.

Huft. Aku tidak ingin menyerah. Aku ingin berjuang seperti orang hebat lain.



Tapi..

Ah, entahlah.

Aku ingat sebuah quote

When life hands you a lemon, make lemonade

Ketika hidup memberimu sebuah jeruk limau, buatlah es limun.

Namun, jeruk limau yang satu ini begitu asam, hingga membuat es limunku masih saja asam.
Berapa banyak gula yang harus kutambahkan lagi?

Template by:

Free Blog Templates